Rabu, 19 Februari 2020

MEDIS ADALAH SISI LAIN KEUTUHAN RUQYAH SEBAGAI KEBESARAN ALLAH



Ada seorang bapak yang anaknya sakit parah. Sudah hampir sebulan terbaring kritis.

Awalnya beberapa hari tiba-tiba seperti orang yang stres, pendiam, lalu menjadi ganas mengamuk. Padahal dirinya masa pelatihan terakhir kepolisian sebelum dilantik jadi anggota resmi kepolisian.

Para paranormal atau orang pinter atau dukun banyak yang sudah dipanggil, semuanya bilang itu kerasukan astral, tapi tetap malah makin parah.

Karena mengamuk makin tak bisa dikontrol, solusi paranormal ditinggalkan, dibawa ke rumah sakit Polda Bayangkara Surabaya. Dokter tak bisa menangani.

2 harian mengamuk di rumah sakit, tiba-tiba kondisi menjadi terbalik ekstrim, koma total. Tergeletak, mata terpejam mulut tertutup. Tinggal nafas yang lemah keluar masuk tubuh.

Beberapa hari kemudian, tetap dalam kondisi koma, tak mati tak hidup, saya dipanggil meruqyah, alhamdulillah bisa sadar, matanya terbuka, bisa mereaksi sapaan yang datang padanya, tapi hanya matanya. Seluruh tubuhnya tetap tak bisa apa-apa.

Tubuhnya sudah persoalan medis, organ-organnya sudah bermasalah, berhari-hari tak makan apa-apa. Tugas medis.

Tapi sayang, keluarganya kembali ekstrim klenik. Anggapnya sakitnya semata disantet, sehingga kalau bisa dikeluarkan jin santetnya anaknya itu bisa langsung sehat sekala itu dan langsung ikut pelatihan polisi lagi.

Sudah saya jelaskan, bahwa itu bukan soal klenik atau santet atau kerasukan jin lagi, tapi soal medis. Sisi-sisi tubuhnya sudah betul-betul remuk. Butuh tugas medis yang maksimal.

Tetap tak percaya, malah makin sibuk cari paranormal, dukun, kiai, atau orang sakti lagi. Ruqyah diminta istirahat dulu. Ahli kleniknya sudah banyak yang datang, ada dukun parewangan juga ada kiai dukun, semua sama tetap menganggap penyakit klenik dengan cara masing-masing. Makin menguatkan kepercayaan semata-mata gangguan klenik dukunis. Sisi ruqyah dan medis makin diabaikan.

Meski demikian, yanh sakit makin menjadi kritis, baru dimasukkan ke ruang ICU dengan pernapasan buatan.

Akhirnya saya cuma bisa batin: astaghfirullah, kasian...

Sebelumnnya juga sudah saya tegaskan, jangankan sekedar jutaan para dukun yang beritual mengobati, 1000 kiaipun mendoakan, saya yakin tak kan pernah bisa langsung sembuh lagi, itu sudah betul- betul butuh penanganan medis yang ekstra. Tubuhnya sudah betul-betul remuk, lambat penangan fisikal.

Banyak yang masih tidak paham bahwa pada kondisi2 tertentu terapi Al-Quran/Ruqyah harus bersinergi dengan medis. Sebab medis juga ilmu Allah, bagian dari Al-Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar