Minggu, 25 September 2016

Lelaki Kamboja 2

Selulusnya kuliah di pondok, ia pamit pulang. Sang kyai mengarahkannya untuk menghafal AlQur’an di sebuah pesantren di Lawang, Malang. Tanpa babibu, ia langsung sami’na wa atho’na. Dengan bekal bahasa Arab yang ia praktekkan di pondok pesantren Al amien, ia dengan mudah menghafal Alqur’an. Menghafal Qur’an 30 juz ia tempuh hanya dalam waktu 10 bulan. 


Setelah lulus dari pesantren di Lawang, dengan pedenya ia mendatangi rumah seorang perempuan di Malang. Perjuangan yang tak mudah, sebab maksud hati untuk melamar pujaan hati, menghadapi berbagai rintangan. Entahlah, apa yang membuatnya sekuat baja hingga mau tak mau ia bertekad harus menikah dengan belahan jiwanya.
Walaupun cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi orangtua dari perempuan tersebut memihak padanya. Kartu AS ada di tangannya. Dan, rencana itupun dikelola sedemikan rupa. Sang perempuan yang bekerja di Malang selatan itupun tak tahu apa-apa.

“Aku nggak mau!”ketus perempuan itu menjawab.

“Tega sekali kamu merampas kebahgian orangtuamu? Tidakkah kau mau membahagian mereka sebelum ajal menjemputmu?”ucapnya lembut “aku nggak akan mengajarimu bagaimamna cara berbakti kepada orang tua, karena kamupun pasti sudah tau hukumnya”

Bisu. Tak ada jawaban dari perempuan itu.

“Begini saja, kita nikah untuk membahagiakan mereka.Setidaknya mereka tau, bahwa kamu anak yang berbakti kepada kedua orangtua. Setelah itu, kita cerai.”

Aha! Ide bagus. Batin perempuan sipit tersebut. Ia pun menganngguk. “Ok!”
Sampai pada saatnya tiba, sang perempuan dijemput untuk melaksanakan akad nikah. Ahh, masih galau hatinya. Buah simalakama ini bener2 gak enak.

“Ayo kita pulang” kakaknya menjemput di tempat kerja.
“Tapi aku masih kerja.”
“Baik, saya pamitkan”
“Jangan...”

Sang kakak diam. Tak berkata apapun. Ia hanya memperhatikan wajah sendu adiknya. Bulir-bulir air, jatuh mengaliri pipi tirus sang adik. Dipeluknya tubuh mungil di sampingnya. Berharap ada kekuatan besar menjalari tubuh adik yang ia sayangi. Tangisnya makin menjadi. Tangis pilu siti nurbaya memecah suasana kantor yang hampir tutup itu. 

*          *          *
Tak ada terop. Tak ada soundsystem yang menggema ke seluruh penjuru kampung. Yang ada hanya tangisan, layaknya kematian merenggut salah satu diantara mereka. 

manten lanang wes teko!” teriak salahsatu dari mereka. Tak urung terikan itu membuat suasana makin kacau. Teriakan histeris mulai terdengar. Ternyata ibu mempelai putri pingsan. Tak siap menerima keadaan terburuk yang bisa saja terjadi hari itu. Semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Anak pertamanya, sudah tiga kali bolak-balik ke rumah tanpa membawa putrinya. Dan sekarang, mempelai pria sudah datang. Dan ia tak mendengar info apapun dari sulungnya. Di telpon tapi gak diangkat. Mau ditaruh dimana mukanya jika prosesi akad nikah ini GAGAL? 


Mempelai putri datang dengan sang kakak yang disambut gembira oleh para biodo dan sinoman dengan mata sembab. Tepat setelah sholat maghrib, janji suci itu diucapkan. Akankah ia ingkar terhadap janjinya?

9 komentar:

  1. MasyaAllah. Dalam 10 Bulan hafal 30 juz Al-Qur'an. Luar biasa ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,
      Nadila hafal 30juz, brapa lama? ๐Ÿ˜Š

      Hapus
  2. Balasan
    1. Iya, makasih mbak lis..
      Eh, hebat apanya mb? Hebat nolaknya? Wkwkwk

      Hapus
  3. Ooo... Aku sepertinya mulai bisa menerkaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dek cili mah gitu orangnya.. Suka menerka -nerka.. Tapi belum tentu benar loh tebakanmu, hehe

      Hapus
  4. baca ini jadi pingin mendalami ilmu agama jauh lebih jauh.. makasih mba Siti , tulisannya sarat nasehat

    Tran Ran

    BalasHapus