Jumat, 12 Agustus 2016

Fullday school, why not?!


Wacana pak mentri tentang adanya fullday school banyak menuai pro dan kontra. Ada yang setuju, ada pula yang menolaknya. Sebagian mengungkapkan bahwa fullday school sangat menguntungkan terutama bagi mereka, para orang tua yang sibuk bekerja. Setidaknya, ketika orangtua sedang mengumpulkan pundi-pundi uang, mereka tak perlu khawatir dengan anak yang bisa saja keluyuran tanpa sepengetahuannya.

Ada juga yang berpendapat bahwa dengan adanya fullday school, hak orangtua terampas karena makin sedikit waktu yang tersisa untuk berkumpul bersama buah hati.

Terlepas dari polemik tersebut saya ingin sharing tentang pengalaman seseorang yang sudah mengalami keajaiban fullday school yang benar dan aman.

Sebut saja namanya Ibu Farida, beliau adalah seorang pedagang di salah satu pasar tradisional yang menyekolahkan anaknya di sebuah lembaga dengan sistem fullday school. Senyumnya selalu tersungging ketika melayani pelanggan yang membeli di lapaknya. Entahlah, seoalah ada magnet dalam lapaknya. Dagangannya selalu rame. Saya sebagai pembeli kadang juga heran, padahal yang jualan produk sejenis dengan yang dijual ibu Farida banyak. Kadang saya beli, sambil nunggu pembeli lain dilayani dulu. Seneng aja ngelihat bu Farida dengan cekatan mengambilkan barang dan menerima uang dari pembeli.

“Loh, Ibu sudah mau pulang? Kok tumben jam segini uda beres-beres?” tanyaku penasaran, sambil memperhatikan tangan bu Farida memasukkan dagangannya ke dalam karung.

“Iya mbak, saya mau ngunjungi anak di pondok. Sekarang waktunya hari kunjung. Selain hari kunjung, orangtua tidak diperbolehkan bertemu dengan anak.”

 “Anak Ibu di pondok?Bu Farida nggak kangen?”

“Kangen sih mbak, tapi demi kebaikannya dan kebaikan saya juga, saya pendam kangen itu. Saya enggak bisa ngajari dia mengaji, lha wong ngaji saya masih grotal-gratul kok. Makanya, saya pasrahkan sama yang lebih ahli. Saya yakin mbak, dagangan saya yang laris ini, juga karena do’a anak saya di pondok.”

“Kok punya inisiatif mondokin anak, Bu?”

“Awalnya saya ingin anak saya mulai mondok setelah keluar SD. Rencana saya dan almarhum suami sama. Tapi, takdir berkata lain. Suami saya meninggal sebelum anak kami lulus SD. Akhirnya, saya putuskan untuk menyekolahkannya di pesantren walaupun belum lulus SD. Saya yakin, dia di pondok pasti bisa mendoakan ayahnya. Kalau dia sekolah di luar, belum tentu ia bisa mengaji setiap waktu. Apalagi sekarang jamannya udah kayak gini, mbak. Pergaulan dengan teman-temannya yang sering mengajak main PS atau game membulatkan tekad saya untuk nyekolahin dia di pesantren. Betul kata almarhum suami saya mbak, banyak manfaat yang kita dapatkan dengan menyekolahkan anak di pesantren.”

Sambil membenarkan posisi duduk, saya menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut bu Farida.

“Kita sebagai orangtua pasti tenang dan nggak khawatir ketika anak ada di pondok. Karena sholat 5 waktunya gak bakalan bolong, berjamaah lagi! Pasti mengaji. Bisa melatih anak agar disiplin dan mandiri. Kalau di rumah?belum tentu kan?”

Benar juga apa yang dikatakan ibu Farida. Seperti inilah mestinya fullday school yang diterapkan di Indonesia. Sistem pendidikan yang tak pernah berubah. Sistem pendidikan yang membuat santri atau siswanya tangguh. Dan yang jelas, sistem pendidikan ini benar-benar telah teruji. Memadukan IPTEK dan IMTAK sebagai sarana membangun karakter anak.


So, Fullday school?? Whynot?!

6 komentar:

  1. iyo mbak Tergantung full daty school itu kegiatanya apa di sekolah. kalo ada extrakurikuler yang bagus, bukan hanya duduk belajar aja mungkin masih oke

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb wiwid, kalo ga ada selingannya, pasti mereka bosen.hehe

      Hapus
  2. Kalo fullday nya sekalian ngaji ea gpp..klo pelajaran trus ea bosen heheheheheh...Kasian jga klo anak SD harus bawa buku setas gede bangetttttt...heheheheh

    BalasHapus
  3. Kalo fullday nya sekalian ngaji ea gpp..klo pelajaran trus ea bosen heheheheheh...Kasian jga klo anak SD harus bawa buku setas gede bangetttttt...heheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya fa..
      kadang kasian, kalo liat edo sekolah bawa tas isinya buanyaaakkk banget, padahal masih kelas 2SD.

      Hapus
  4. Sebenernya banyak sekolah non pondok yang sudah memberlakukan fullday school ini. Misalnya al-azhar?? Dan beberapa sekolah swasta lainnya.

    BalasHapus