Jumat, 26 Agustus 2016

BERHAJI Tanpa ke Tanah Suci


Dikisahkan dalam kitab Salafussaleh, “Siyar A’lam An-nubala” karya Az-Zahabi, bahwa Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi ulama terkenal di Makkah yang menceritakan pengalaman dirinya ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu manasik haji, Beliau beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka:
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat yang satunya.
“700 ribu,” jawab malaikat yang kedua.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?” lanjutnya.
“Tidak satupun,” tegasnya

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. Ia menangis dalam mimpinya. Bathinnya kaget keheranan: “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, tapi semua usaha mereka menjadi sia-sia?”Sambil gemetaran, ia lanjutkan mendengar percakapan kedua malaikat itu.

“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Bahkan berkat satu orang itu seluruh haji mereka diterima oleh Allah.” Lanjut Malaikat yang kedua.
“Kok bisa?” ta’jub Malaikat pertama.
“Itu Kehendak Allah,
“Siapa orang tersebut?” Urus Malaikat pertama
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (Damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, Beliau langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria. Sampai di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya itu. Hampir semua tukang sol sepatu di kota itu ditanya, hingga ada seorang tukang sol sepatu bisa menunjukkan tempatnya. Sesampai di tempatnya ulama itu menemukan tukang sepatu yang mulya di sisi Allah itu. Pakaiannya tampak lusuh.

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Saya Abdullah bin Mubarak”
Said bin Muhafah pun terharu, “Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Beliaupun menceritakan perihal mimpinya. “Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!” jawabnya

“Ceritakan bagaimana kehidupan suadara selama ini.” Pinta Abdullah bin Mubarak
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita, “Setiap tahun, setiap musim haji, saya selalu mendengar, Labbaika Allaahumma Labbaika. Labbaika Laa Syariika Laka Labbaika. Innal Hamda Wanni’mata Laka Wal Mulka. Laa Syariika Laka. Setiap kali saya mendengar itu, saya selalu menangis kepada Allah, ‘Ya Allah saya rindu Mekkah. Ya Allah saya rindu melihat ka’bah-Mu. Ijinkan saya datang….. Ijinkan saya datang ya Allah....’

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya tabung. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji”.
“Saya sudah siap berhaji, tapi tidak jadi,”
 “Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia pas ngidam berat-beratnya, istri saya berkata kepada saya, ‘Suamiku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini? Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.”

“Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :“Tidak Boleh Tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan”, katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya, kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata, “Daging Ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan.”

Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama Muslim, kenapa?” Tanya saya
Janda itu menjelaskan, “Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak, oleh karena itu bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tidak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istri, dia pun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu. Lalu kami memberikannya. Uang untuk berangkat haji sebesar 350 dirham pun saya berikan juga pada mereka untuk digunakan buat usaha, supaya tidak kelaparan lagi seterusnya. Dan bathin saya yakin: Ya Allah……… di sinilah Hajiku, Ya Allah……… di sinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut ulama’ Abdullah bin Mubarak itu tak bisa menahan air mata. Menangis sejadi-jadinya. Betapa mulyanya orang itu.

#        #        #

Cerita tersebut menegaskan betapa Maha Pemurahnya Allah, Maha Adilnya Allah, dan Maha Bijaksananya Allah memberi banyak jalan atau peluang untuk hamba-hamba-Nya dengan mudah sesuai dengan kehendak-Nya. Allah memastikan pahala yang sama meski dari jalan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi hamba-hamba-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar