Selasa, 12 Juli 2016

Ruqyah: Kain Kafan Melayang



Sayup-sayup terdengar suara perempuan menangis. Suaranya kecil. Seperti suara yang sering dipakai sebagai backsound film horor. “ada siapa di depan dek” tanyaku pada Fatih yang asyik bermain lego di kamar. Tak sepertiku yang nempel bantal aja langsung pulas, dia sangat betah melek. Terkadang, ia baru tidur setelah ayahnya datang dari meruqyah seseorang dan baru pulang jam 12 malam.
Dengan kaki mungilnya ia berlari kecil, melihat keadaan di ruang tamu. 



“Ayah ngeruqyah” jawabnya langsung duduk kembali dan meneruskan mainannya. Tawanya berhenti. Sepi. Penasaran, aku segera ke kamar mandi dan membuang rasa kantuk yang menggelayut di mata yang terlanjur pulas beberapa waktu tadi. 

“Siapa kamu?” tanya suami memulai dialog. Tak ada jawaban.
“Kamu kenapa disini?”
“Saya disuruh”
“Disuruh siapa?” lagi-lagi ia bungkam. Suami memberikan pengertian bahwa manusia bukanlah tempat untuk kediaman jin dan menyuruhnya untuk tinggal di tempat yang disediakan Allah untuk bangsanya. Di akhir dialognya, suami mengajak jin yang ada dalam tubuh mbak tersebut untuk bersyahadat, dan masuk Islam serta mengikuti jejak jin sholeh yang ada dalam lingkungannya. Tak berapa lama, perempuan tersebut muntah-muntah. Pertanda jin yang berada dalam tubuhnya keluar. 

#                             #                             #

“Awalnya kenapa mbak?” tanyaku penasaran. 
“Entahlah mb, kapan kejadian awalnya.” Bola matanya melirik kesebelah kiri. Ia sedang mengingat sesuatu. “yang jelas, sejak menikah dengan dia aku sering melihat kain kafan terbang di depan rumah. Kadang juga, ada kuntilanak di pojokan.” 

Belum selesai ia bercerita, bulu kudukku berdiri. Gak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padaku.
“Selain itu, aku ngalamin pendarahan mb. Miss v ku gatel. Tapi waktu kuperiksain ke dokter spesialis, katanya normal gak ada penyakitnya. Test laboratorium juga memberikan hasil yang sama dengan dokter. Sampai pusing mikirinnya mb..”
“Berarti sejak menikah ya mb?” Ia langsung menunduk. 

“Iya mb, keluarga besarku enggak suka kalau aku menikah sama dia. Mungkin mereka iri atau apa, karena sebelum menikah aku sudah dibelikan motor baru sama calon suamiku. Yang merestui pernikahanku hanya bapak. Sekarang bapak udah meninggal mb.” Raut wajahnya sendu. Kristal yang berkumpul di bola matanya. Menggelinding diantara pipinya yang tembem.

Setelah diruqyah gimana rasanya mb?”
“Tadi setelah aku minum madu, kayak mau muntah gitu mb. Mual. Perut kayak diaduk-aduk, dan ada sesuatu yang mau keluar. Setelah muntah, alhamdulillah udah enak. Enteng..” dengan sumringah ia menjelaskan panjang lebar. 


Alhamdulillah... 

4 komentar:

  1. Mbak Nia, masih penasaran, si mbak itu diguna guna kah? soalnya kata jinnya dia disuruh..disuruh siapa?

    BalasHapus
  2. Mbak Nia, masih penasaran, si mbak itu diguna guna kah? soalnya kata jinnya dia disuruh..disuruh siapa?

    BalasHapus