Jumat, 20 Mei 2016

Ruqyah: Gadis Belenggu Seribu Setan 1


Ini adalah pengalaman suami ketika meruqyah seorang gadis kelas 2 SMA.
Ada mobil parkir di depan masjid. Mungkin mau ke masjid. Melepas lelah dari perjalan panjangnya sekalian sholat isya’, pikirku. 4 orang perempuan, 3 orang lelaki dan 2 bocah. Ternyata mereka menuju rumah. Apa mau beli es ya? Batinku. Langsung kubuka pintu yang tertutup separuh.
“Assalamu’alaykum..” lelaki dengan perawakan kecil menguluk salam.
“Wa’alaykumussalam..” Jawabku


“Pak Ali ada?” masih orang yang sama yang bertanya
“Masih ngeruqyah di kampung sebelah. Ada perlu apa ya?”
“Tadi saya sudah janjian sama beliau..” langsung saya persilahkan masuk semua rombongan tersebut.
Ternyata lelaki yang mengucap salam tadi adalah seorang peruqyah. Beliau janjian ketemu sama suami untuk membantu meruqyah gadis cantik, putri dari pemilik mobil. Ibunya bercerita bahwa, anaknya, panggil saja Tami, sakit perut. Sakit yang diderita luar biasa! Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata harus operasi karena usus buntu. Operasi berjalan lancar. Namun sakit yang diderita Tami makin hari makin parah. Bahkan sekarang gampang pusing.
Orangtuanya memeriksakan kembali Tami ke rumah sakit. Dokter hanya geleng-geleng kepala karena merasa sumber penyakit sudah diangkat dan bekas operasi di perutnya juga normal. Diperiksakan ke rumah sakit lain, divonis infeksi usus besar. Diberi obat. Setelah diminum ternyata, sakitnya langsung hilang tapi sejam kemudian sakitnya kembali muncul. Orangtuanya kembali bingung. Dibawanya sang putri ke rumah sakit Lavalette di kota Malang.
“Ada yang bisa kami bantu pak?”
“Mbak, anak saya sakit perut. Saya mau dia diopname.”
“Maaf, kamar sedang penuh, mungkin kami bisa bantu untuk mengecek kesehatannya.”
Setelah dilakukan USG, tes urine, tes darah ternyata tak ada penyakit yang terdeteksi. Semua normal.
Tak puas dengan jawaban sang dokter, orangtua Tamipun berusaha dengan terapy ruqyah.
“Assalamu’alaykum..” suamiku datang.
“Wa’alaykumsalam..” jawab kami serentak
Ada secercah harapan yang memancar dari wajah ayah Tami. Setelah bercerita sedikit tentang anaknya, proses ruqyahpun dimulai. Baru dibacakan ayat suci Al-Qur’an, Tami langsung bereaksi.
“Kamu kenapa keluar?!” Tami dengan suara berat membentak dan menunjuk ayahnya.
Kami yang hadir tak paham dengan apa yang ia maksudkan. Suami mengajaknya berkomunikasi. Jin yang berada dalam tubuh Tami menjelaskan bahwa ia disuruh seseorang untuk membunuh Tami.
“Hah??!” sang ibu menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Bersambung...

17 komentar:

  1. Kasihan Tami. Apa krn org tuanya py salah pd org lain?

    BalasHapus
  2. Wuihhh...kisah nyata ya mbak nia..... real lokasi kayaknya...
    Aq jg malang mbk nia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya say..
      Km daerah sukun kan ya?sukun mana ya?aq kalo kuliah selalu lewat sana..lewat aja tapi..xixixi

      Hapus
  3. Semoga si Tamu lekas dibebaskan dari gangguan jin...

    Adakah dendam yg masih tersimpan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin..
      Kita tunggu cerita selanjutnya yaa..

      Hapus
  4. Menarik sekali. Ada Jin di tubuh Tami. Penasaran nih lanjutannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mas parto..
      Ditunggu kelanjutannya yaa..tp kayaknya masih perlu banyak belajar sama "sumur tua pak suto" hehe

      Hapus
  5. Mb Nia, aku masih penasaran lha kok berkambung..eee bersambung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe
      Makasih uda penasaran mb Lisa..jd makin semangat bikin cerbungnya..
      Hehe

      Hapus
  6. Serem yah kalo kayak Gitu.. gimana nasib tami sekarang mbak?

    BalasHapus
  7. Misteri ...
    Menarik bgt ide tulisannya, mbk Janiah

    BalasHapus