Kamis, 11 Februari 2016

KEJUJURAN IMAM HANAFI

Selepas sholat subuh, Imam Hanafi bersiap membuka tokonya, di pusat kota Kufah. Diperiksanya dengan cermat pakaian dan kain yang dijual. Sewaktu menemukan pakaian yang cacat, ia segera menyisihkan dan meletakkannya di tempat yang terbuka supaya kalau ada yang akan membeli, ia dapat memperlihatkannya .
Ketika hari mulai siang, banyak pengunjung yang datang ke toko untuk membeli barang dagangannya. Tapi, ada juga yang hanya memilih-milih saja.


“Mari silakan, dilihat dulu  barangnya. Mungkin ada yang disukai“ tawar Imam Hanafi tersenyum ramah.
                Seorang pengunjung tertarik pada pakaian yang tergantung di pojok kiri .
                “Bolehkah aku melihat pakaian itu ?” tanya perempuan itu. Imam Hanafi segera mengambil barang yang diinginkan.
                “Berapa harganya?” tanyanya sambil memandangi pakaian itu. Pakaian ini memang bagus . Tapi, ada sedikit cacat di bagian lengannya.” Imam Hanafi memperlihatkan cacat yang hampir tak tampak pada pakaian itu ”Sayang sekali,” perempuan itu tampak kecewa. ”Kenapa tuan menjual pakaian yang ada cacatnya?”
                “Kain ini sangat bagus dan sedang digemari, walaupun demikian karena ada cacat sedikit harus saya perlihatkan. Untuk itu saya menjualnya separuh harga saja“
                “Aku tak jadi membelinya. Akan kucari yang lain,” katanya. “Tidak apa-apa. Terimah kasih,” sahut Imam Hanafi tetap tersenyum dalam hati. Perempuan itu memuji kejujuran Imam Hanafi. Menyembunyikan kecacatan barang dagangan adalah  hal lumrah bagi sebagian pedagang, tapi hal itu tidak berlaku padanya.
                Sementara itu ada seorang perempuan tua, sejak tadi memperhatikan sebuah baju di rak. Berulang-ulang dipegangnya baju itu, lalu diletakkan kembali. Imam Hanafi lalu menghampirinya. ”Silahkan, baju itu bahannya bagus sekali . Harganya pun tak begitu mahal.”
                “Memang, sayapun sangat menyukainya.” Orang itu meletakkan baju di rak. Wajahnya kelihatan sedih.
“Tapi saya tidak mampu membelinya, saya ini orang miskin“ katanya lagi.
                Imam Hanafi merasa iba. “Saya akan menghadiahkannya untuk Ibu,” Kata Imam Hanafi. ”Benarkah? apa tuan tidak akan rugi?”
                “Alhamdulillah, Allah sudah memberi saya rezeki yang lebih,”  ujar Imam Hanafi sambil membungkus dan memberikanya pada orang tersebut. ”Terimah kasih, anda sungguh dermawan. Semoga Allah memberkahi.” Tak henti-hentinya orang miskin itu berterima kasih.
Menjelang tengah hari, Imam Hanafi bersiap akan mengajar. Selain berdagang, ia mempunyai majelis pengajian yang selalu ramai dipenuhi orang-orang yang menuntut ilmu. Ia selalu menitipkan tokonya kepada seorang sahabat sesama pedagang.
                Sebelum pergi, Imam Hanafi berpesan kepada sahabatnya agar mengingatkan pada pembeli kain yang ada cacatnya itu.
                “Perlihatkan pada pembeli bahwa pakaian ini ada cacat dibagian lengannya. Berikan separuh harga saja,” kata Imam Hanafi. Sahabatnya mengangguk. Imam hanafi pun berangkat ke majelis pengajian.
                Sesudah hari gelap ia baru kembali ke tokonya. ”Hanafi, hari ini cukup banyak yang mengunjungi tokomu. O,iya! Pakaian yang itu sudah di beli orang,” kata sahabatnya menunjuk tempat pakaian yang ada cacatnya.
                “Apa kau perlihatkan kalau pada bagian lengannya ada sedikit cacat?” tanya Hanafi.
                Masyaalllah aku lupa memberitahu. Pakaian itu sudah dibeli dengan harga penuh,” sahabatnya sangat menyesal.
                Hanafi menanyanakan ciri-ciri orang yang membeli pakaian itu, dan iapun bergegas mencari untuk mengembalikan sebagian uangnya. ”Ya allah ! aku sudah mendzoliminya,” ucap Imam Hanafi.
                Sampai larut malam, Imam Hanafi mencari orang itu kesana kemari. Tapi tak berhasil ditemui. Imam Hanafi amat bersedih. Di pinggir jalan tampak seorang pengemis tua dan miskin duduk seorang diri. Tanpa pikir panjang, ia sedekahkan semua uang penjualan pakaian yang cacat.
                “Kuniatkan sedekah ini dan pahalanya untuk orang yang membeli pakaian  bercacat itu,” ucap Imam Hanafi. Ia merasa tidak berhak terhadap uang hasil penjualan pakaian tersebut.

                Imam Hanafi berjanji tidak akan menitipkan lagi tokonya kepada orang lain. 
Subhanallah... 

Sumber: Media Ummat Edisi 224 Tahun 2016
Sumber foto: google

Jangan lupa tinggalkan komentar dan alamat blogmu ya kawan, biar bisa aq follow.. Ok??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar