Kamis, 25 Desember 2014

Pilihanku (mungkin) Baik, Tapi PilihanNya PASTI Yang Terbaik



Tanggal 25 Desember  2011 adalah tanggal tercatatnya pernikahanku. sebuah catatan palsu yang tertuang dalam Buku Nikah. Pun begitu dengan namaku, nama palsu. Nama asliku TIJANIYAH. Sangat Simpel bukan? Tapi ternyata namaku berganti. Mungkin, karena terdengar kurang familier di telinga guru SD ku saat itu, dia berinisiatif untuk menambahkan kata “si” di depan namaku. Jadilah namaku “si tijaniyah” dengan modifikasi menjadi “Siti Janiah”. Dan, nama itulah yang nangkring di KTP, KK dan semua Ijazahku.


Dengan namaku yang berubah jadi Siti janiah nasibku ternyata sebelas duabelas sama Siti Nurbaya. Tak jauh beda dengannya, akupun dipaksa menikah sama orang tuaku. Ahh, sedih rasanya jika aku harus menceritakan kembali perjalanan orangtuaku yang membujuk dengan berbagai macam cara. Membujuk secara baik-baik pernah, dan dengan cara extrim juga pernah.  Ya, aku pernah diancam kalo nggak mau menikah, leherku akan digorok pake pisau yang biasa dipake untuk ngiris asem sama ibu. Kalau saja Nya Rus dan Kak Wesly nggak melerai Ayah, mungkin aku sudah lama terpendam dalam kuburan.
Karena aku keukeuh pada pendirianku, akhirnya orrang tua tetep berinisiatif untuk menikahkanku dengan lelaki pilihan mereka. Bahkan tanpa sepengetahuanku. Mereka merencanaknnya di bawah tangan. Menjelang hari H, aku sering sekali dikunjungi. Kebetulan aku baru bekerja di sebuah koperasi syariah di kabupaten Malang.
Lihatlah wajah sendu kedua orangtuaku.  Seharian mereka tak makan karena hatinya tak tenang. Hari itu adalah hari yang (mungkin) menjadi hari yang tak akan pernah terlupakan oleh ayah ibu. Hari dimana mereka telah menentukan pernikahanku tanpa meminta persetujuan dan ridhoku. Tepatnya, hari Senin tanggal 16 Mei 2011 maghrib menjelang akad, masih belum ada tanda-tanda kehadiran pengantin. hujan tangis kian mengiris waktu mereka tau mempelai pria sudah ada di tempat . Tak ada yang bisa membuatku datang kecuali ucapanmu “ jangan buat kedua orang tua kita kecewa. Bahagiakan mereka dulu, setelah itu kita cerai”. Sungguh, aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Disatu sisi, aku sangat menyayangi orangtua. Aku harus berbakti pada mereka. Tapi disisi lain, aku gak bisa nerima keputusannya untuk menikah saat ini. Dan kata-katamu telah menghipnotisku. Ya, salah satu cara tak melukai hati keduanya  adalah menerima permintaan untuk menikah, dan bercerai dengan alasan gak cocok. Beres. 

@@@                   @@@                   @@@

Di awal pernikahan, selalu ada cek-cok. Dan kamu selalu mengalah. Bacaan Aqur’an dan dzikirmu selalu menghiasi  rumah kita. Sungguh, Allahlah penggenggam hati manusia. Hatiku sedikit demi sedikit mulai berubah. Ya, aku belajar mencintaimu sedikit demi sedikit. Sangat sulit, tapi saat ini statusku adalah sebagai istri. Surgaku tak lagi ada dalam ridho orangtua. Sekarang surgaku ada dalam pelukanmu. Dalam pelukan suami. Di masa labil inilah ada seseorang yang memanfaatkannya. Pengurusan surat nikah yang tak kunjung selesai. Padahal kami sudah menyerahkan sejumlah uang untuk pengurusannya. Rp 500ribu. Mungkin bagi sebagian orang, uang 500ribu itu kecil. Tapi bagi kami, uang segitu besar banget. Mengingat suami masih belum punya penghasilan. Ya, kami baru punya 1 sumber penghasilan. Mangandalkan gajiku untuk hidup berdua. Cukup? Alhamdulillah, cukup. Dengan mengikatkan tali pinggang kami tentunya. Sampai akhirnya, ketika aku sudah hamil, aku tanyakan kembali keberadaan surat nikahku. “surat nikahmu belum diurus”. Ahh, tega nian. Sungguh aku tak pernah membayangkan. Aku yang menikah tanpa persiapan financial, ditipu mentah-mentah oleh keluarga sendiri. Dan aku harus mengurusnya dari awal. Itulah kenapa buku nikah ini aku anggap sebagai “catatan palsu”. Catatan yang tak menggambarkan keaslian sebuah peristiwa. Tanggal pernikahanku tercatat pada tanggal 25 Desember 2011, 7 bulan setelah akad nikah. 

@@@                   @@@                   @@@

                Hari ini, Jum’at 25 Desember 2014. 4 tahun lebih 7 bulan kita mengarungi bahtera rumah tangga. Tak ada lagi penyesalan dalam pernikahan ini. Aku malah bersyukur dipilihkan Allah untuk mendampingimu lewat tanggan kedua orangtuaku. Mendampingimu menapaki jalan terjal merintis pesantren impian. Sungguh, aku bangga padamu. Hujan panas tak pernah menyurutkan niatmu untuk berangkat menyusuri jalan gelap menuju Gunung Kawi, bukan untuk mencari pesugihan. Tapi memberi secercah harapan bagi generasi penerus bangsa di salah satu sudut lembah Gunung Kawi. Dan itu, kau lakukan setiap hari. Maaf, supportku belum maximal. Tahukah kamu, hatiku menjerit ketika tau uang kita menipis dan kau harus mencari uang receh untuk persiapan beli bensin. Ahh, menangis hati ini. Do’aku, Semoga Allah memberi keluasan rezeki pada kita sehingga tak perlu menunggu waktu lama untuk mengajak mereka, anak-anak kita untuk makan enak bersama. Rekreasi bersama tanpa memikirkan ongkos dan uang saku. Ya, itulah salah satu pemantik semangat mereka mengaji. Bukan, bukan untuk berhura-hura. Tapi itulah caramu melepaskan lelah mereka, anak-anak polos di desa yang selalu berjibaku dengan kegiatan rutin mereka. Caramu yang unik itulah yang membuat mereka semakin menyayangimu, guru mereka satu-satunya.
                Suamiku, hari  ini aku ikrarkan bahwa “Aku Ridho dengan pernikahan kita. Aku ridho engkau sebagai suamiku. Bimbing aku menuju JalanNya.  Tegur aku ketika aku salah, tegur aku dengan pelukanmu. Karena aku sadar, aku tak sesempurna Siti Khadijah dalam membantu perjuangan suaminya. Dan izinkan aku untuk menegurmu ketika salah. Karena kamu tak sesempurna Nabi Muhammad saw.  Kita hanyalah manusia yang penuh dosa, khilaf dan alpa. Tutupi kekurangnku dengan kelebihanmu, begitu juga sebaliknya.  Mungkin, diluar sana banyak yang lebih baik darimu. Tak terkecuali orang yang sebelumnya aku anggap baik dan lebih pantas menjadi suamiku. Tapi, skali lagi aku tegaskan pilihanku mungkin baik, tapi pilihan Allah pasti yang terbaik. Aku mencintaimu. I LOVE YOU sayang…
Semoga kita tetep dipersatukan olehNya sampai kembali ke kampung akhirat. Kampung keabadian, Surga. Aamiin..
                Pernikahan itu bukan menyatukan 2 hati dengan menghilangkan perbedaan, tapi pernikahan mengajak 2 hati berjalan beriringan layaknya rel yang selalu berdampingan menuju 1 tujuan - Fauzil Adhim –



Kamis, 25 Desember 2014

13 komentar:

  1. Subahanallah... Barakallahu lakuma, wabaraka alaikuma, wajama'a bainakuma fi khair... :)

    BalasHapus
  2. Subhanallah....
    sy sbg saksi kisah ini merasa sangat terharu n bahagia stlh mmbaca catatan pendek ini, hingga tanpa terasa mengucur air mata kebahagiaan.
    hehe... aku masih ingat saat2 km mengacuhkanku ketika aku mengatakn kebaikn, ktulusan sahabatku itu. kala itu aku sangat kesel, sebel n kecewa sama km yg telah menyia-nyiakannya bhkn (maaf) kasar padanya, tp kini aku bangga bahkan iri dg kluarga kalian. maafkn aku ya....
    aku senantiasa berharap & berdoa semoga keluarga kalian sll mendapat Ridhlo Allah swt
    amin...

    Salam kangen dr Mahmud sekeluarga untuk Ali sekeluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,
      Biasa lah bang,itu masa2 "error".
      Aamiin, semoga do'a tsb kambali pula pd kluarga bang mahmud.

      Hapus
  3. semoga sakinah mawaddah wa rohmah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...
      semoga begitu juga dengan keluarga mb Lisa..

      Hapus
  4. semoga sakinah mawaddah wa rohmah..

    BalasHapus
  5. Subhanalloh, mbak Nia ... terharu aku membaca kisah perjalanan pernikahan ini. Semoga tercipta keluarga sakinah, ma waddah, wa rahmah, aamiin.
    Wajah mbak dan suami kok kayaknya mirip ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin itulah yang dinamakan jodoh ya mb Nova?
      hehehe
      :)

      Hapus
  6. Walau kisah nikahnya agak ruyemm.. tapi sukses bikin anak uhmmmmm *berimajinasi uhmmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihiy mba Raidaaa... bahasanya runyam.hihihihi.

      Hapus
    2. ahahaha, mb raidaaa...

      bener kata mb vinny, bahasanya itu loh...

      Hapus